Menonton Barongsai, Menghargai Perbedaan

January 27, 2017 Elfida Lubis

Indonesia adalah soal keberagaman dan kemajemukan. Hidup di tengah perbedaan justru terasa indah dan bermakna ketika kita tahu cara untuk saling menghargai. Hidup di antara perbedaan justru meningkatkan kualitas ketika kita paham bagaimana saling menghormati. 

Ragam yang paling terasa di Indonesia ialah suku dan etnis yang hidup berbaur berdampingan, dengan budaya dan gaya hidup masing-masing yang tetap dijalankan. Hal itu justru membuat hidup lebih berwarna. Salah satu tradisi yang hidup dan bisa dinikmati semua kalangan sekarang, adalah perayaan Imlek atau Tahun Baru China yang tahun ini akan jatuh pada hari Sabtu esok, 28 Januari 2017. Biasanya pada hari itu, warga keturunan Tionghoa akan mengunjungi tempat ibadah mereka, yaitu klenteng untuk berdoa. Kamu ingin tahu, di mana saja klenteng tua dan bersejarah baik itu di Jakarta maupun di sekitarnya? Cari tahu di bawah ini.

 

1. Klenteng Kim Tek Le/Jin De Yuan

Salah satu kelenteng tertua di Jakarta ini berada di kawasan Pecinan Lama, Glodok, didirikan tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan diberi nama Koan-Im Teng atau biasa juga disebut Paviliun Guan Yin. Tahun 1740, kelenteng yang dipersembahkan untuk Dewi Koan-Im (Dewi Welas Asih) ini turut dirusak dalam peristiwa pembantaian terbesar etnis Tionghoa dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Konon, istilah "kelenteng" berasal dari Jin De Yuan ini. Saat orang asli Betawi bertanya kepada etnis Tionghoa dari suku Hokkian mau pergi ke mana dan dijawab, "Ke Kuan Im teng," kemudian dilafalkan seadanya sebagai "ke-len-teng" (klenteng). Di ruang tengah kelenteng, terdapat banyak patung yang berasal dari sebelum tahun 1740 dan di pojok halaman belakang terdapat lonceng buatan tahun 1825 yang merupakan lonceng tertua di Jakarta. 

 

2. Klenteng Lie Tek Kwai

Foto: baltyra.com

Berdiri sejak tahun 1812 di kawasan Glodok, berjarak 150 meter dari kawasan Arab Pekojan yang juga merupakan kawasan masjid tertua di Jakarta, klenteng ini dapat menjadi simbol kerukunan antara etnis Tionghoa dan Arab yang hidup berdampingan selama ratusan tahun.

 

3. Klenteng Toa Se Bio

Foto: travel.detik.com

Saat Imlek nanti, kamu bisa menyaksikan pertunjukkan barongsai di klenteng yang berada di kawasan Petak 9, Glodok, tepatnya di Jalan Kemenangan II Nomor 48. Klenteng yang disebut Wihara Dharma Jaya ini ternyata juga termasuk salah satu klenteng yang terbakar pada peristiwa suram tahun 1740 (baca klenteng nomor 1). Namun, tidak seluruh bagian klenteng hangus terbakar. Di bagian dalam, masih ada bangunan lama yang tersisa, termasuk hiolo, meski terbuat dari kayu. Hiolo adalah tempat menaruh dupa saat sembahyang. Hiolo besar akan menyambutmu di depan klenteng. Masuk ke dalam, temukan rupang atau patung dewa tuan rumah klenteng ini, Cheng Boan Cheng Kun. Di pojok ruangan, terdapat pagoda tinggi yang menarik perhatian karena sekaligus menjadi tempat lampu minyak umat.

 

4. Klenteng Sin Tek Bio

Foto: republika.co.id

Berada di kawasan Pasar baru, klenteng ini termasuk salah satu yang tertua kerena sudah berdiri sejak tahun 1698. Menghadap ke Jalan Samanhudi, yang dulu dikenal sebagai Gang Tepekong, kenali bangunan fisiknya dari dua ekor patung naga dengan mutiara di tengah yang terdapat di atapnya. Sedangkan didalam ruang utama terdapat ukiran dua naga yang melilit tiang utama, lalu di kanan dan kiri pintu masuk dijaga dua ekor singa. Yang unik saat perayaan Imlek berupa arak-arakan Gotong Toapekong, selalu dihadirkan juga budaya Betawi tanjidor dan gambang kromong.

 

5. Kelenteng Tjo Soe Kong

Foto: merahputih.com

Dikenal juga dengan nama Kelenteng Tanjung Kait karena lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Kait tepatnya di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang disebut sudah berdiri sejak tahun 1792. Semakin dikenal luas karena merupakan satu-satunya bangunan yang bertahan dari hempasan tsunami dahsyat saat Gunung Krakatau meletus dan akhirnya menjadi salah satu tempat para pengungsi korban bencana tersebut. Kompleks ibadah ini terdiri dari empat bangunan.

 

6. Klenteng Boen San Bio

Foto: jakarta.panduanwisata.id

Memasuki Kota Tangerang, Anda bisa menjumpai Wihara Boen San Bio. Klenteng yang kerap disebut Wihara Nimmala ini dibangun tahun 1689 oleh pedagang keturunan Cina bernama Lim Tau Koen. Klenteng di daerah Pasar Baru, Karawaci itu dikenal karena arsitekturnya yang khas dan mewah. Di bagian atap terdapat patung burung hong (phoenix) yang mengapit mutiara. Tempat batang hio di sana tidak seperti hiolo di klenteng lain karena terbuat dari batu pualam.

 

7. Wihara Boen Tek Bio

Foto: indonesiakaya.com

Masih di Kota Tangerang, tepatnya di Jalan Bhakti, terdapat Wihara Boen Tek Bio. Tidak ada catatan pasti kapan klenteng tersebut dibangun, tapi berbagai artefak yang ada di dalamnya menunjukan bahwa tempat ibadah tersebut sudah berusia ratusan tahun!

 

8. Kelenteng Sampo Tay Jin

Foto: jakarta.panduanwisata.id

Kota Tangerang juga memiliki Klenteng Sampo Tay Jin yang berlokasi di Jalan Otto Iskandardinata. Konon klenteng ini sudah ada sejak pelayaran sang laksamana besar Sampo Tay Jin ke tanah air pada abad ke-15. Klenteng ini terbilang unik karena memuja Sampo Tay Jin atau dikenal dengan nama Ceng Ho di Indonesia. Fakta bahwa Ceng Ho adalah seorang muslim tidak membuat jemaat klenteng ini mengurangi rasa hormatnya. Mereka bahkan turut tidak mengkonsumsi daging babi meskipun tidak memeluk agama Islam. Di sini juga terdapat benda pusaka berupa keris yang merupakan peninggalan salah seorang adipati Jawa.

 

9. Klenteng Boen Hay Bio

Foto: jakarta.panduanwisata.id

Sedangkan di Kota Tangerang Selatan, terdapat Klenteng Beon Hay Bio yang juga diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Serunya, banyak juga yang datang ke sini untuk belajar Bahasa Mandarin yang memang diadakan oleh pengurus klenteng sebagai salah satu kegiatan bakti sosial rutin.

 

 

 

 

10. Klenteng Ho Tek Ceng Sin

Foto: tetehbukaneceu.wordpress.com

Bangunan klenteng ini berdiri di Jalan Raden Lukman Cirimekar Nomor 31, Cibinong, Bogor. Pada awalnya, klenteng ini hanya sepetak bangunan berukuran 3×3 meter, berisi meja altar Dewa Bumi atau Ho Tek Ceng Sin dalam bahasa Hokkian dan Fu De Zheng Shen dalam bahasa Mandarin. Setelah dipugar pada 2 April 1989 dan diresmikan oleh pemerintah pada tanggal 26 Februari 1990, berkembang menjadi bangunan seluas 300 meter. Menurut pengurus klenteng, tingkat toleransi beragama di tempat ini sangat tinggi karena berdekatan juga dengan masjid dan wihara.

Previous Article
Temukan Perayaan Imlek Paling Meriah di Sini
Temukan Perayaan Imlek Paling Meriah di Sini

Yuk, merasakan serunya Imlek dan Cap Go Meh di kota-kota ini.

Next Article
7 Soft Skills Yang Harus Kamu Kuasai di 2017
7 Soft Skills Yang Harus Kamu Kuasai di 2017

Membuka peluang baru dimulai dari keinginan untuk belajar hal baru.

Want more?

Visit our site

Discover