Menjelajah Kawasan Pecinan Petak Sembilan

February 23, 2015 Siwi Rahayu

Kehidupan kota Jakarta yang penuh hiruk pikuk membuat kita membutuhkan waktu luang untuk refreshing sejenak misalnya dengan jalan-jalan ke tempat yang kental akan sejarah etnis Tionghoa ini. Yap, namanya Petak Sembilan. Akhir – akhir ini ngetop karena dikunjungi banyak ‘seleb’ media sosial. Terletak di sibuknya Kawasan Pecinan Glodok, Petak Sembilan seolah melemparkanmu ke dunia yang sama sekali lain dan berbeda dari Jakarta.

Mungkin di antara kamu masih ada yang bertanya-tanya: ke Petak Sembilan ngapain aja sih? Jangan salah, ada banyak sekali yang bisa kamu lakukan di sana. Dari sekedar cuci mata, wisata sejarah, beribadah, ataupun memanjakan perut dengan wisata kuliner di tempat tersebut. Pastikan kamu mengunjungi tempat-tempat ini saat menjelajah Petak Sembilan.

1. Kompleks Vihara Dharma Bakti, satu tempat yang wajib dikunjungi di Petak Sembilan

Screenshot 2015-02-23 11.39.08
foto: forum.indowebster.com
Vihara Dharma Bakti adalah satu dari 3 wihara tua yang sampai saat ini masih digunakan untuk peribadatan umat Buddha etnis Tionghoa di Jakarta. Pada tahun 1740, wihara ini sempat hangus terbakar saat terjadi tragedi pembantaian etnis Tionghoa. 5 tahun kemudian, tepatnya pada 1755, wihara yang menjadi saksi eksisnya etnis Tonghoa di Indonesia ini, dibangun kembali oleh Kapitein Oei Tjhie.
Wihara yang berusia lebih dari tiga setengah abad ini tak pelak menjadi saksi bisu perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kebayang dong gimana rasanya berada di bangunan dengan usia setua sejarah Indonesia? Yap, seperti terlempar ke masa lalu oleh mesin waktu.

2. Pasar Pecinan, tempat bahan makanan ‘antimainstream’ diperdagangkan

Terletak di belakang Vihara Dharma Bakti, pasar Pecinan ini bisa dibilang bukan sembarang pasar. Kenapa? Karena banyak bahan masakan yang dijual di pasar ini tidak ditemukan di pasar-pasar tradisional di Jakarta, seperti: Katak (baik yang masih hidup, ataupun yang telah mati/siap masak), bulus, berbagai jenis jamur dan rempah, akar-akaran, bahan jamu, dan lain sebagainya. Uniknya lagi, para penjual dan pembeli banyak yang bertransaksi dengan menggunakan bahasa Mandarin, akan membawamu seolah olah ke Negeri Cina sana.

Persamaannya dengan pasar tradisional, mungkin adalah suasana pasar yang riuh dan cenderung agak becek saat musim hujan. Jadi, sebaiknya kenakan outfit yang tepat saat berkunjung ke sini ya.

3. Gereja St Maria De Fatimah.
Screenshot 2015-02-23 11.46.26
foto: Indonesia.travel

Screenshot 2015-02-23 11.45.30
foto: enak2lovers.blogspot.com
Gereja unik ini terletak di sebelah SMA Ricci. Sekilas, dari luar memang tak nampak seperti gereja, melainkan lebih mirip dengan klenteng pada umumnya. Bahkan, papan nama tempat inipun dibuat ala Tionghoa dengan menggunakan bahasa Mandarin. Baik eksterior maupun interior gereja ini memang didesain dengan perpaduan antara arsitektur Tionghoa dan Betawi, dengan warna merah mencolok di sana sini. Untuk menikmati interior Gereja St Maria De Fatimah, ada baiknya kamu datang jika ada jadwal peribadatan. Tapi, harap tetap menjaga kesopanan agar tidak mengganggu mereka yang sedang berbadah.

4. Toko – toko kelontong penjual barang kebutuhan ziarah.

Di toko – toko kecil yang berjejer ini memang dijual berbagai macam perlengkapan beribadah, ziarah, ataupun pernak pernik/ hiasan rumah yang didominasi warna merah dan emas. Suasana di sini akan lebih semarak saat menjelang hari raya Imlek, dengan lampion berbagai bentuk dan ukuran yang tergantung di terasnya.

5. Wisata kuliner Gang Gloria, surganya para pecinta kuliner.

Sebagaimana arsitektur yang telah bertahan selama lintas generasi, kuliner yang menjadi identitas warga Tionghoa, dapat dinikmati dari berbagai warung di sini. Di gang kecil ini, ada banyak sekali pilihan untukmu pecinta daging, sayuran, chinese food hingga vegetarian. Pendeknya: Komplit!
Berbagai olahan babi mendominasi menu di Gang Gloria, meski tak sedikit juga makanan halal yang disajikan, jadi travelers yang muslim tak perlu was was saat berwisata kuliner. Masih dari Gang Gloria agak masuk ke dalam lagi, ada warung Kopi Es Tak Kie yang sangat legendaris yang telah berdiri sejak 1972. Kedai yang buka mulai pukul 14:00 ini
terkenal dengan racikan kopinya yang khas.
Screenshot 2015-02-23 11.49.01
foto: cnnindonesia.com

Dari warung kopi Tak Kie, mari menuju Soto Betawi “A Fung” yang terkenal dengan potongan daging sapinya yang besar dan halal, karena tidak mengandung babi sama sekali. Tepat di depan Soto Betawi A Fung, ada gerobak Rujak Juhi, dengan penjual super ramah yang siap melayani para pembeli. Rujak Juhi sendiri mirip dengan gado-gado, hanya saja ditambah dengan irisan cumi cumi yang telah dikeringkan.

Nah, udah siap jalan – jalan ke Petak Sembilan kan? Untuk kamu yang di luar Jakarta, yuk rencanakan perjalananmu bersama pegipegi!

Read more...

Previous Article
Seleb Hollywood dan Destinasi Wisata Indonesia Pilihannya
Seleb Hollywood dan Destinasi Wisata Indonesia Pilihannya

Sulit memang menafikan keindahan Indonesia yang kaya dengan aneka ragam...

Next Article
Canggu, Keindahan Terpendam di Bali
Canggu, Keindahan Terpendam di Bali

Bali selalu identik dengan Kuta dan Seminyak, tetapi kini ada satu tempat...