Kulineran Enak di Pasar Lama Tangerang: Perut Lapar Menjadi Super Kenyang! Oh No!

July 25, 2018 Ikhda Rizky
pasar lama tangerang kisamaun


Penasaran banget dari dulu pengen ke sini, iya, ke Pasar Lama Tangerang. Padahal hampir 1 tahun bekerja di BSD yang jaraknya hanya ditempuh dengan 30 menit berkendara untuk menuju ke pusat jajanan dan kuliner terbesar di Kota Tangerang ini. Selain itu juga, sudah banyak blogger dan vlogger yang pernah ke sini, menjadikan mesin pencarian Google penuh sesak dengan konten-konten dari mereka. Membuat rasa  penasaran semakin menguat untuk pergi ke Pasar Lama Tangerang, mencicipi berbagai macam kulinernya yang enak-enak (katanya).

Kendalanya, gue memang belum menemukan waktu yang tepat dan juga partner yang tertarik untuk diajak ke sini. Sampai akhirnya di bulan Juni 2018 kemarin, gue bertemu dengan seseorang yang spesial, hebatnya ternyata doi juga suka makan, oke sip, cocok, berangkat! Maka gue memutuskan untuk pergi ke Pasar Lama Tangerang satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri 2018. I’m so excited!


Nah, ketika di perjalanan, sempat terpikir “jangan-jangan belum ada yang buka?”, “apa yang berjualan masih sepi karena lebaran?”. Ternyata jawabannya nggak, nggak sepi sama sekali, bahkan euforia Idul Fitri di sini udah nggak terasa sama sekali. Semua pedagang, toko, café, dan restoran di sini semuanya buka, bahkan sudah banyak pembeli yang berdatangan, waw!


pasar lama kisamaun sore hari
harus sabar dengan kendaraan bermotor ketika berjalan kaki di sini
pasar lama tangerang sore hari
semakin sore, semakin malam, semakin ramai

Pasar Lama Tangerang terletak di Jalan Kisamaun, Kota Tangerang. Kalau lo datang ke sini dan langsung mengerti jalan, hebat! Kenapa gue bilang begitu, iya karena (menurut gue nih) jalan menuju ke Pasar Lama ini membingungkan, apalagi dengan banyaknya jalan satu arah, oh my god, puyeng kesasar terus gue. Tapi rasa lelah dan kebingungan itu pudar seketika saat melihat riuh ramainya para pedagang makanan di sini dengan semerbak aromanya yang menyapa indera penciuman. Lapeeer….lapeeerrr…!!


Oh iya, sebelum gue memulai petualangan kuliner sore itu (cieelah petualangan kuliner), gue mencari musala terlebih dahulu yang letaknya nggak jauh dari Vihara Boen Tek Bio. Vihara ini ternyata ramai, banyak dari mereka yang datang untuk beribadah (iyalah Eki!), terlebih lagi karena di sekitar Pasar Lama Tangerang ini adalah kawasan pecinan. Pecinan adalah suatu wilayah yang penduduknya dominan ditinggali oleh masyarakat Tionghoa. Perlu kalian tahu lagi, kalau Vihara Boen Tek Bio ini adalah Vihara yang paling tua di Tangerang lo, waw!

vihara boen tek bio kisamaun
kawasan pecinan yang sangat indah

------

Setelah solat Ashar beres, penelusuran mencari makanan dimulai, pertama yang dicoba di Pasar Lama Tangerang adalah;

1. Nasi Kebuli Haji El
nasi kebuli haji el
masih sore, yang makan masih agak sepi, jadi nyaman
Di sini gue memesan Nasi Kebuli Kambing dan Roti Cane Kari Kambingeverything is about goatmbeeeek….!! Nasi kebuli Haji El ini termasuk salah satu dari sederetan list yang harus dicoba ketika lo mengunjungi Pasar Lama Tangerang. Apa iya rasanya enak, sampai-sampai membuat lidah mereka terbuai? Pertama yang gue coba adalah nasi kebulinya, tersaji dengan taburan bawang merah goreng, potongan daging kambing tentunya, sambal, kerupuk, dan acar. Rasanya? Enak cui! Rempah yang bercampur di nasinya membuat rasanya semakin gurih dan nikmat. Apalagi nih, pas makan itu dalam kondisi perut lapar dan nasinya sedang hangat-hangatnya, beuh joss bro! Untuk potongan daging kambingnya ini dimasak dengan bumbu kari yang cenderung kecokelatan (mirip semur), tapi ketika digigit, teksturnya "nggak melawan", empuk! Mau lebih nikmat lagi? santaplah dengan sambal merah segarnya dan nikmati bersama kerupuk udangnya, duh duh duh! Nggak lupa dengan acarnya, kress...kress…di mulut. Tapi sebentar deh, apaan ini, ini bukan timun? Setelah bertanya dengan si penjualnya, bahwa campuran yang ada di dalam acarnya itu bukanlah timun, melainkan potongan bengkuang, oh that’s new! I give it two thumbs for this cuisine! (8/10)


nasi kebuli haji el pasar lama
nasi kebuli enak, roti cane yang biasa aja

Lanjut lagi, gue kemudian mencoba roti cane kari kambingnya. Roti cane/roti canai/roti prata/roti maryam, sebenarnya satu jenis, berasal dari Kota Chennai di India, cuma mungkin karena udah tersentuh berbagai budaya dan racikan tangan yang memasak, jadi terasa berbeda satu sama lain. Ekspektasi pertama saat ingin menyantap roti cane adalah bentuknya yang seperti jaring laba-laba dengan lapisan tepung yang tipis dan ringan, tetapi di sini ternyata tebal dan berat. Bagi sebagian orang It’s a good things dan si pedagang pun ikut senang dengan menjual roti cane ini setebal mungkin. Padahal, roti cane yang diharapkan adalah roti tipis dan bentuknya tidak gepeng seperti alas piring. Sayang sekali, padahal rasa kuah kari dan daging kambingnya udah enak, rotinya lah yang membuat poinnya berkurang. (7/10)

2.     Pondok Serabi Hijau 11 Bersaudara
Mencari pencuci mulut yang manis-manis, serabi sepertinya cocok. Terlebih lagi jarak Pondok Serabi Hijau 11 Bersaudara ini hanya sekali tengok badan aja dari tenda nasi kebuli, maka terpesanlah serabi hijau berkuah durian. Sebenarnya gue nggak suka buah durian sih (please hate me!), tapi menurut penuturan si penjual kalau rasa duriannya tidak terlalu menyengat, oke, jadi buat gue no problem. Tapi buat lo lo pada yang bener-bener anti-durian, di Pondok Serabi Hijau 11 Bersaudara ini ada pilihan kuah manis biasa kok, tenang aja.
pondok serabi hijau pasar lama
enak ini, kapan-kapan coba yang bukan kuah duren deh
Setelah serabi diantarkan ke meja, aroma durian langsung tercium. Makan disuapan pertama sambil bersugesti (don’t think about it…don’t think about it), tapi ternyata bener, rasa duriannya nggak dominan, enak! Kuahnya memang beraroma durian, tapi rasanya sama sekali nggak “durian banget”. Mungkin kalau yang fanatik dengan durian akan langsung men-judge “ah nggak enak, nggak terasa duriannya”, tapi bagi sebagian orang yang tidak terlalu menyukai durian, ini adalah serabi berkuah durian yang pas dan nikmat. 

Sedangkan, untuk serabinya nggak terlalu ada perbedaan antara serabi-serabi yang lain. Sama-sama bertekstur empuk, sedikit rasa gurih yang muncul dari tepung berasnya, dan khasnya adalah tercium aroma bakar yang berasal dari wadah tanah liat yang digunakan untuk mematangkan serabinya. Tapi sayangnya rasa pandan yang membuat serabi ini berwarna hijau nggak bisa gue rasakan. So far, bolehlah! (7.5/10)

3.     Tahu Gejrot Khas Cirebon “Eatt Dah”
tahu gejrot eatt dah
terlihat menarik bukan, ada penjual tahu gejrot di sini
Selanjutnya yang di coba di Pasar Lama Tangerang adalah tahu gejrot. Namanya tahu gejrot “Eatt Dah”, entah maksudnya yang jual itu “et dah” (rese amat) atau “eat dah” (makan deh), hanya beliau dan suaminya yang tahu. 

Nah, ada yang unik, menarik, atau mungkin bisa dibilang ngawur dari penyajian tahu gejrotnya. Campuran potongan risol isi bihun hadir di sana (mirip yang ada di campuran soto mie, tau kan?). Bingung kan tahu gejrot ada risolnya? Dari segi penampilan saja sudah merusak estetika dan ternyata rasanya pun begitu. Ini sama sekali nggak match, justru jadi aneh banget. Kulit risol yang terendam kuah menjadi sangat lembek dan nggak nikmat saat dimakan, duh! Tapi mungkin akan berbeda ketika kulit risolnya masih crunchy ketika digigit, karena bisa memberikan tekstur yang berbeda.
tahu gejrot pasar lama kisamaun
tapi maaf, rasanya tak seindah tampilannya
Nggak hanya itu, rasa kecewa pun datang lagi dari kuahnya, warna yang seharusnya berwarna cokelat gelap seperti kebanyakan tahu gejrot lainnya, tapi ini warnanya bening seperti air, oh no, disaster! (5/10)

4.     Mocktail Low-Budget
mocktail pasar lama tangerang
eh si mbak lirik-lirik...
Sorry gue lupa namanya, jadi ada penjual minuman di Pasar Lama Tangerang yang laris banget, sampai-sampai kedai gerobak yang berada di pinggir jalan itu tertutup oleh mereka yang ingin membelinya. Nggak mau ketinggalan euforia dari mereka yang membeli, maka memutuskan untuk ikut mengantre. Gerobak dagangnya berada di seberang penjual Nasi Kebuli Haji El dan Pondok Serabi Hijau 11 Bersaudara, gampang banget nemuinnya.

Gue memesan Virgin bla..bla..bla.. dan Mango bla..bla..bla.. (aduh maaf lupa namanya). Jadi bahan-bahan yang dijadikan untuk campuran es ini terbuat dari sejumlah minuman soda yang populer seperti fanta, sprite, pepsi blue, sedangkan untuk campuran non-sodanya terbuat dari sirup marjan berbagai rasa. Udah terbayang belum manisnya di mulut? Iya, manis, manis banget. Rasa mango-nya punya efek yang asem-asem seger gimana gitu. Sedangkan untuk yang virgin, duh sorry to say nih rasanya mirip minuman yang udah habis, hanya tinggal es batu, terus ditambahin air, nah rasanya persis kayak gitu! Hahahaha....


mocktail di pasar lama kisamaun
virgin, mango, rainbow
Masih belum puas memesan 2 rasa tadi, gue memesan 1 rasa lagi di sini, padahal sih alasannya karena varian ini punya tampilan warna 3 layer, sehingga menjadikannya sangat instagramable. Kalau nggak salah namanya Rainbow bla..bla..bla.. (lupa lagi, maaf umur). Minuman 3 layer warna ini terdiri dari campuran sirup strawberry, mango, dan pepsi blue. Enak, seger banget, tapi sekali lagi masih terlalu manis buat gue. I give it (7/10) for mango and rainbow drinks, but I give it (3/10) for virgin type. 

5.     Egges Soya (Susu Kacang Kedelai)

Selepas Maghrib sebenarnya perut masih terasa kenyang, tapi sayang banget kan untuk mengakhiri icip-icip kuliner di Pasar Lama Tangerang sedini ini. Sampai kemudian, melihat sebuah penjual susu kacang kedelai di depan salah satu minimarket. Gue penyuka susu kedelai, jadi seneng banget melihat ada yang berjualan di sini, namanya Egges Soya.
suasana malam pasar lama tangerang
harus melipir-melipir karena jalan juga dipakai sama kendaraan roda dua dan empat
Penjualnya hanya menggunakan gerobak kecil, nggak ramai, tapi tetap ada pembelinya. Kagetnya ketika gue meminta susu kedelai hangat, mereka tidak bisa menyediakannya. Padahal susu kedelai hangat menurut gue lebih nikmat ketimbang susu kedelai yang dingin lo. Menurut penjelasan si bapak penjualnya kalau susu kedelai yang dijualnya ini terlalu panas untuk dituang ke dalam plastik, jadi membuatnya harus disajikan bersama es batu dalam kondisi dingin. 

susu kedelai egges soya
enak kok ini!

Terus rasanya gimana ki? Susu enak, kacang kedelainya terasa banget, apalagi nggak ada ampasnya sama sekali. Bertemu es batu aja masih terasa nikmat begini, apalagi diminum dalam kondisi hangat, duh masih penasaran. 

Nah lagi-lagi, karena dari bulan Januari gue sudah menghindari minuman yang manis-manis, jadi membuat indera perasa menjadi sangat sensitif jika bertemu makanan atau minuman yang terlalu manis. Begitu juga dengan susu kacang Egges Soya ini, manisnya over, salah gue juga sih dari awal nggak bilang kalau gulanya sedikit aja. Mungkin bagi sebagian orang, kuatnya rasa manis susu kacang kedelai Egges Soya ini enak, tapi nggak bagi lidah gue karena masih terlalu kemanisan. Oke, diluar rasa manis yang berlebihan, gue kasih nilai (8/10) buat susu kacang kedelainya.

6.     Bubur Ayam Spesial “Ko Iyo”
Petualangan kuliner terakhir di Pasar Lama Tangerang ditutup dengan makan malam di Bubur Ayam Spesial “Ko Iyo”. Ketika sampai di depan warung tendanya, astaga, yang makan dan yang antre membeli itu membludak banget. Gue pun harus menunggu untuk mendapatkan kursi yang kosong di sini, dengan penuh niat sekitar 15 menitan gue menunggu dan mendapatkan kursi kosong untuk 2 orang.

Di Bubur Ayam "Ko Iyo", penjual dan yang melayani pelanggan nggak hanya 1-2 orang aja, kalau nggak salah ada sekitar 6 pekerja di Bubur Ko Iyo ini, mulai dari yang memasak bubur, menaruh topping, menyajikan ke pelanggan, bayar membayar, membuat minuman, sampai yang mencuci gelas dan mangkuknya, c'est cool!

bubur ko iyo kisamaun
seladanya yang bikin rasa bubur ini menarik

Ketika menunggu pesanan, gue melihat ada yang unik dari pembuatan Bubur Ayam Ko Iyo ini, jadi biasanya kan penjual bubur sudah menyiapkan buburnya dalam satu dandang besar, ketika ada yang membeli hanya tinggal mengambil menggunakan centong. Tapi di Bubur Ayam "Ko Iyo" nggak, kok nggak ki? Iya, dari awal, mereka mempersiapkan bubur setengah matang, barulah ketika ada yang membeli, bubur setengah matang itu dimasak lagi dengan kaldu dan potongan daging ayam menggunakan panci berukuran kecil . Waw, keren kan!

Uniknya lagi, karena Bubur Ayam "Ko Iyo" ini adalah bubur yang dimasak dengan style Chinese, membuat penyajiannya berbeda dari kebanyakan bubur ayam lainnya, topping standarnya adalah potongan cakwe dan daun seledri, iya itu aja. Sedangkan untuk ayamnya, sudah dimasak bersama buburnya tadi di awal. Pelengkap standarnya justru bukan kerupuk, melainkan selada, wait what, selada? Awalnya gue kaget karena memang ini pertama kalinya makan bubur dengan selada, tapi ternyata rasanya "nyambung-nyambung aja", enak kok. 

Di Bubur Ayam "Ko Iyo" kalau mau menggunakan ati ampela juga bisa, menggunakan kuning telur mentang juga bisa, tapi harus bilang di awal ya. Di sini, ada 2 pilihan porsi makan, standar dan jumbo. Gue memesan yang standar aja dan tanpa topping apapun, itu aja menurut gue udah besar porsinya, gimana yang jumbo yah? Mantap! (7.5/10)

------

Sebenarnya masih banyak kuliner yang penasaran ingin dicoba seperti Sate Ayam, Telor Gulung, Martabak Kari, Tempura-Tempura, dan lainnya. Tapi mengingat waktu dan kapasitas perut yang terbatas, gue nggak mungkin mencoba semua itu dalam satu hari. Mungkin, artikel ini bakal punya kelanjutannya di part 2 nanti, tunggu aja deh. 


Selamat kulineran!


Previous Article
Beijing Thing's: Mulai Dari yang Keren sampai hmm.... duh!
Beijing Thing's: Mulai Dari yang Keren sampai hmm.... duh!

Gini gaes, gue saat ini sedang kehabisan konten buat ngisi blog, jadi sorry kalau gue bercerita topik lama ...

Next Article
Air Terjun Kedung Gender, Kudus: Gemericik Airnya Menenteramkan
Air Terjun Kedung Gender, Kudus: Gemericik Airnya Menenteramkan

Nggak ada niat khusus untuk pergi ke Colo, sebuah desa yang berada di Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah in...