Trip Report Hari Keempat: Melelahkan & Menyenangkan Untuk Berjalan Kaki

May 20, 2018 Ikhda Rizky


TRIP REPORT Hari ke-4, 

Selasa, 16 Januari 2018


Hari keempat ini merupakan hari besar karena tujuan utama mengunjungi Beijing di China ada di hari ini. Gue mau pergi ke salah satu keajaiban dunia yang dulu hanya bisa gue lihat di buku sejarah  SD aja. Iya, betul sekali, The Great Wall of China.


Bangun agak pagian karana memang perjalanan menuju Tembok China ini lumayan lama (lumayan lo ya, bukan lama banget). Berangkat di hari Selasa pagi, yang lagi-lagi menjadi hari kerja dan jam sibuk. Belum juga sampai di stasiun subway, keramaian sudah terlihat di trotoar yang penuh dengan pedestrian dengan tampilan modisnya walaupun hanya ingin berangkat kerja. Hari itu kaki udah agak mendingan setelah semalamnya di urut sama temen. Seperti biasa berjalan kaki menuju stasiun subway dan kali ini lanjut menaiki bus. Saat sudah berada di dalam stasiun subway, mulailah terlihat keramaian yang nggak asing seperti yang biasa dijumpai di Jakarta. Senggol sana senggol sini, tabrak sana tabrak sini, untung gue udah tough, hahahah.

Sebelum menikmati perjalanan selama 1,5 – 2 jam, di Dongzhimen Bus Station gue mampir dulu ke McD buat beli sarapan pagi. Apesnya, makan di sini bener-bener kayak orang sakit, karena gue nggak mau makan berat, maka terpesanlah burger dingin dan punya rasa yang anyep banget, apalagi di sini mereka nggak menyediakan sambal pedas (bukan sambal tomat ya), ah yasudahlah.


Oke lanjut, gue kemudian naik bis selama 1 jam melewati jalan tol yang pemandangannya biasa aja seperti pemandangan tol di Indonesia, mata semakin sepet karena semua daun yang ada di pepohonan itu meranggas (image kemarau yang khas di Indonesia, padahal suhu di luar bis itu dingin banget). Nah, sebelum turun di terminal Huairou, ada halte bis kecil yang di sana banget calo yang menawarkan mobilnya untuk pergi ke Great Wall, thanks to blogger yang menginfokan gue kalau di sini kita jangan turun. Akhirnya gue pun nggak turun walaupun udah diteriakin orang-orang dari luar bis kalau gue disuruh turun. Setelah sampai di terminal Huairou, gue mencari mobil yang bisa mengantarkan ke Mutianyu, datanglah seorang bapak tua yang menawarkan mobilnya (harga baca di sini). Mobilnya bagus cui, walaupun memang merek China, tapi ini terasa mewah banget, sedan berwarna putih, naik dan turun dibukain pintunya lo. Si bapaknya juga ternyata pakai iPhone dan di layar iPhonenya gue lihat wallpaper-nya yang sepertinya adalah foto cucunya, duh cute! Baiknya lagi, walaupun si bapak parkir di luar area Mutianyu, ternyata gue nggak ditinggal begitu aja, gue diantar sampai ke dalam, ditungguin ketika ke toilet, memandu saat gue ingin membeli tiket, sampai membantu gue saat gue kebingungan di depan loket. thanks ya pak, so much care! Lucunya lagi, saking baiknya si bapak ini, mungkin dikira gue sama temen lagi kebingungan kali ya, padahal gue lagi beresin isi tas setelah beli tiket, si bapak kemudian nyamperin dan ngasih tau detilnya kita harus ke mana dan naik apa, ah semoga berkah pak ya dengan pekerjaannya.


Oke, dari pintu masuk utama, lo akan melewati dahulu toko-toko penjual oleh-oleh sampai restoran makanan, barulah akan sampai di tempat pemberhentian shuttle bus menuju atas. Setelah sampai di atas, lo masih harus berjalan kaki lagi dengan medan yang menanjak. What? Iya, tapi tenang karena suhunya dingin mungkin nggak terlalu capek kali ya. Lucunya lagi di sini ternyata banyak kucing-kucing gemuk yang hidup di area Mutianyu Great Wall ini, hahaha lucu banget. Terus, naik ke Great Wall-nya pakai cable car dan turun pakai tobbogan. Seru, seru banget! 

tuh tuh yang jual boneka panda
banyak resto dan tempat makan di sini
hey, what are you doing?!
naik bis ini buat ke atas
jarang ada turis Ameria/Eropa
waw!
deg-deg ser naik cable car, tapi seru banget
clear blue sky!
nice weather, nice place, nice mood
amazing!
chantique nian!
apa iya ini nggak pakai semen?
ada matahari tapi masih dingin
Pas udah turun, gue melihat ada boneka panda yang dijual di beberapa toko oleh-oleh di sini, gue berhenti di salah satunya dan si penjual bilang kalau harganya 70 CNY, gue tawar 40 CNY nggak dikasih, dia beri harga akhir 50 CNY, gue sebenernya masih agak ragu buat beli dan malah sampai sekarang nyesel. Kenapa nyesel? Karena setelah mencari di kota dan di Beijing Zoo, gue nggak menemukan boneka panda yang bentuknya lucu seperti di Mutianyu, ah sebel. 


Oke lanjut, setelah sampai di terminal Huairou, perut keroncongan dan temen notice kalau melihat warung muslim. Masuk ke dalam dan langsung di sambut ramah dengan si penjualnya, ngoceh-ngoceh dan ditunjukin menu yang mungkin harus di coba. Pesan kuetiaw, teman pesan nasi daging capcay, pas dateng kita berdua kaget, kaget karena porsinya banyak banget cui. Kagetnya lagi adalah harganya termasuk murah lo, satu porsi kuetiaw 17 CNY, nasi daging 16 CNY.  Si bapak ini juga ramah banget dan selalu tersenyum sama gue ketika sedang menikmati masakannya, thanks pak!


Nah lucunya, gue sama temen itu makannya ternyata lama banget karena di awal emang kaget sama porsinya yang bikin capek mulut dan lelah perut. Tersadar ketika udah ada 8 sampai 9 orang bergantian masuk ke restoran dan menyantap makanan di sini, tapi kita berdua belum kelar-kelar daritadi, astaga banyak bangeeeet porsinya! Ditambah lagi, gue perhatiin itu orang-orang lokal yang datang makannya cepet banget, padahal rata-rata mereka makan mi yang porsinya juga buanyak. Tau kenapa? Ternyata di China, mi udah jadi makanan yang melambangkan kemakmuran, jadi ketika memakannya mereka berusaha menyeruputnya sampai bagian akhir dan mengusahakan jangan sampai putus di tengah. Makan dari ujung mie, sampai benar-benar di ujungnya lagi tanpa terputus, hebat kan! 

Ketika gue menanyakan berapa total harga makannya, si penjual memberitahukannya dengan cara menggunakan tangan yang inivisible dicoretkan ke meja, nice, right?

nah ini warung muslimnya
Menu-menunya terlihat enak-enak
kelihatannya dikit ya? tapi buanyaaak banget
ini untuk ber-2, no way!
mulai begah!
Pulang kembali ke Kota Beijing dengan menggunakan bus lagi dari terminal Huariou, awalnya udah was-was karena memang gue pikir saldo kartu udah habis dan gue lagi nggak pegang pecahan kecil uang CNY, matilah! Tapi ternyata ketika gue mencoba tapping di dalam bus, ternyata berhasil, itu berarti saldo kartunya masih bisa digunakan. Sampai di terminal Dongzhimen gue agak bingung karena ternyata disuruh turun sama keneknya di depan terminal, membuat gue harus berjalan kaki ke dalam dengan kondisi kaki yang makin sakit dan pegel.


Sampai di kota sekitar jam 4 sore dan gue mencoba pergi ke Tianyi sebagai pusat grosir terbesar di Beijing. Turun di stasiun yang lumayan jauh, jadi harus berjalan kaki sekitar 40-50 menitan, dan ternyata TUTUP cui, anjir! Tutup dalam arti udah nggak buka lagi selamanya, ah kampreeet capek banget jalan udah jauh-jauh. Rasa lelah semakin mendera, ketika harus berpikir untuk balik lagi ke arah stasiun yang jaraknya lumayan jauh. Jalan kaki terasa menyiksa saat itu karena nggak sampai-sampai dan membuat gue buat mampir sebentar ke Seven Eleven yang dilewati. Setelah sampai di stasiun, gue masih lanjut lagi buat ke National Stadium & Aquatics Center, yang LAGI-LAGI diharuskan untuk berjalan kaki, karena memang areanya luas banget. Di sini gue udah nggak mood lagi buat foto-foto karena udah kedinginan parah dengan angin yang berhembus lumayan kencang, apalagi udah capek seharian dari Tembok China, pergi ke Tianyi yang tutup, sampai perut baru sadar belum diisi. Setelah sampai hostel pun, gue langsung lemah tidur tak berdaya….. 

tutup dong, elah!
baguuuus bangeeeet!
indaaaaaah!
dah bodo amat foto-foto, dingiiin njirrr!!
mi instan cup rebus ala-ala
lanjut mi instan goreng lagi
Biaya Day 4:

Burger HAM      : 8 CNY

Mobil Sedan PP : 100 CNY bagi 2

Tiket Great Wall  : 180 CNY

Makan Kuetiaw   : 17 CNY

Minum                  : 2 CNY

Previous Article
Naik Tegang, Turun Lemas di Mutianyu, Great Wall of China
Naik Tegang, Turun Lemas di Mutianyu, Great Wall of China

Ini dia destinasi utama gue ketika pergi ke Beijing, ya nggak lain nggak bukan adalah Tembok Cina (The Grea...

Next Article
Perjuangan Penuh Drama Menuju Kampoeng Jazz 2018 di Bandung; Lari-Lari Mengejar Bus, Ngompol di Celana? Ewh!
Perjuangan Penuh Drama Menuju Kampoeng Jazz 2018 di Bandung; Lari-Lari Mengejar Bus, Ngompol di Celana? Ewh!

Nggak ada rencana sama sekali di akhir bulan pergi ke Bandung buat nonton konser Jazz. Cerita ini bermula k...