Sepenggal Cerita Beta Di Pulau Rote

September 22, 2018 MUHAMMAD ASYRAF

Rote bagiku lebih dari sekedar hamparan tanah yang luas membentang diatas laut, lebih dari sekedar pulau yang berada di ujung selatan Indonesia. Bagiku rote adalah keluarga!

Disini saya bertemu dengan bapa, mama, kakak nona, to’a, te’o dan adek. Siapa mereka?  yah, mereka adalah keluarga baruku di bumi NTT. Kami bertemu saat senja mulai menampakkan diri sore hari di desa Oetefu, Rote Barat Daya 22 September lalu.

Begitu hangat mereka menyambut tamu jauh yang datang dari tanah Sulawesi ini. Saya pun merasa sangat senang dengan keakraban yang terjalin di Rote begitu cepat.

Menarik : Tips Mendaki Gunung Semeru 3676 MDPL

Ada banyak penggalan cerita yang saya simak dari masyarakat desa Oetefu. Sedih, senang, susah, tawa dan tangis tak ragu mereka ceritakan kepada Beta, yang berarti saya dalam bahasa NTT.

Kisah Bapa Musa Messakh Mencari Rezky

Pulau Rote

Musa Messakh atau akrab dipanggil bapa Musa ini tinggal di desa Oetefu, Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndau. Keseharian beliau diisi dengan bekerja mencari Gula Air atau yang umum dikenal dengan Gula Aren.

Setiap pagi setelah ayam berkokok bapa Musa mengambil perlengkapan kerjanya dan bergegas untuk memanjat pohon lontar satu demi satu di kebun belakang rumahnya. Setelah itu dipasang sebuah penampung air gula untuk kemudian dialirkan didalamnya.

Keesokan harinya setelah wadah terisi air gula kemudian bapa Musa mengumpulkan semua air gula dalam beberapa jerigen untuk dimasak pada kompor tradisional yang terbuat dari tanah liat dengan kayu bakar yang sudah disiapkan di hari sebelumnya.

Pulau Rote

Hasil Gula Air atau biasa di sebut juga Gula Lempeng ini kemudian dijual di pasar pada pagi hari. Uang hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk membeli beras, lauk pauk dan kebutuhan keluarga lainnya, ujar bapa Musa.

Mungkin hasilnya tak seberapa, namun beliau selalu bersyukur karena keluarganya bisa makan di hari ini dengan kerja keras sendiri. Walau berat, senyum anak dan istri bapa Musa seolah menjadi obat lelah seusai bekerja.

“rasa syukur bapa Musa menjadikan semuanya selalu hidup dalam kecukupan”

Cerita Anak-anak Rote Ndau, NTT

Pulau Rote
Wajah ceria Vannesha dan kawan-kawan
Pulau Rote
Keluarga bapak musa messakh di Rote

Sore itu saya terbangun dari tidur siang karena mendengar suara anak-anak yang bernyanyi di pekarangan rumah. Rupanya mereka anak Rote yang sering berkumpul dan bermain di sore hari.

“Kasih ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi ta kharap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”

Yah, lagu diatas adalah lagu favorite yang dinyanyikan Vanessha dan anak-anak rote sore itu. Suara cempreng dan wajah lugu mereka menjadikan lagi ini sangat bermakna saat melihatnya.

Kemudian saya keluar dan mengajak mereka bermain dan bercerita. Awalnya mereka sangat pemalu hingga beberapa saat saya bujuk seketika semua berdatangan memeluk saya dengan erat, hahaha.

Pulau Rote
Kegiatan anak-anak rote di sore hari

Marina Menari! adalah lagu yang saya ajarkan sore itu. Lagu ini merupakan lagu yang saya dapat ketika aktif sebagai Relawan KSR PMI Unit 121 PNUP, lagunya seperti ini:

“Marina menari, diatas menara, diatas menara Marina menari”

Dengan gerakan yang menyesuaikan lagu membuatnya anak-anak tertarik.. dan Anak Rote memang pintar, setelah saya ajar satu kali mereka langsung bisa melakukannya.

Bermain dan bernyanyi terus kami lakukan hingga tak terasa malam pun menjemput. Saya berniat untuk masuk kedalam rumah, tapi anak-anak rote saat itu masih melihat dengan mata polos mereka menanti permainan selanjutnya, hahaha.

Yasudah saya melanjutkan permainan selanjutnya sambil berbagi certa sama mereka. Beberpa pertanyaan sederhana yang saya tanyakan yakni nama lengkap dan cita-cita mereka kelak.

Dengan antusias dan sedikit rasa malu satu persatu menjawab…

“Saya ingin jadi Guru Matematika, Dokter, Polisi hingga Guru Agama. “

Saya merasa sangat senang mendengarkan jawaban mereka satu demi satu sembari kutitipkan doa agar cita-cita anak Rote ini terkabul suatu saat, Amin.

Menarik : Tips Liburan Hemat Ke Thailand

Listrik dan Air yang Sulit

Pulau Rote
Suasana penerangan malam hari
Pulau Rote
Kiriman air bersih dari pusat kota

Saat siang semua aktifitas sangat ramai, namun ketika malam tiba dan peranan listrik terasa sangat vital saat itu. Saya duduk bersama bapa Hermanus di tengah malam yang gelap sambil bercerita tentang keidupan di Rote.

Beliau berkata bahwa Rote memiliki potensi yang luar biasa, namun belum semuabisa dimaksimalkan hingga hari ini. Sebut saja sektor pariwisata yang sangat menjanjikan seperti Telaga Nirwana dan beberapa lepas pantai yang saya kunjungi tempo hari.

Pak kades, atau akrab disapa bapa Hermanus sangat baik kepada saya. Mengapa? ditengah kesulitan air bersih, saya selalu disiapkan air 1 ember untuk mandi pagi dan sore. Padahal bisa mandi sekali sehari saja di desa ini dengan air bersih sangat sulit.

“terimakasih bapa hermanus”

Itulah sepenggal cerita yang saya saksikan di Pulau Rote. Hal yang sangat luar biasa melihat kehidupan yang masih khas di tengah pembangunan kota yang sangat modern di sisi barat.

Pulau Rote
Keluargaku di rote

The post Sepenggal Cerita Beta Di Pulau Rote appeared first on Mydaypack.

Previous Article
Comment on Keliling Wisata Sulsel Bersama Skyscanner by Badrul Mozila

Belum kesampain ke sulawesi... semoga dalam waktu dekat saya bisa punya waktu dan biaya yang lebih buat mai...

Next Article
Comment on Catatan Pendakian Pendakian Gunung Semeru 3676 MDPL 17 Agustus 2018 by MUHAMMAD ASYRAF

iyaaa makanya kudu hati2 klo ngambil air mz... takutnya ketemu si panthera cardus itu hahahaa bisa2 ga jadi...