Jelajah Bangunan Retro di Jakarta

April 8, 2016 Fani Rachmita

Kembali ke masa lalu mungkin adalah salah satu guilty pleasure, dimana perasaan bersalah muncul karena mengingat hal yang sudah-sudah namun menyimpan kesenangan tersendiri yang diam-diam dinikmati. Kegemaran mengingat masa lalu tak hanya saat mengingat sang mantan, traveling pun bisa menjadi momen untuk napak tilas mengingat masa lalu tentunya sambil berwisata.

Keunikan bangunan hingga nuansa jadul yang kental menjadi alasan kenapa bangunan atau destinasi wisata dengan tema jadul tak pernah sepi penggemar. Tak perlu jauh-jauh, ternyata kota Jakarta menyimpan kekayaan bangunan dengan nuansa retro atau zaman dulu yang memukau. Apa sajakah? Simak list-nya dengan scroll ke bawah.

 

Gedung Kesenian Jakarta

Bangunan peninggalan pemerintahan Belanda ini memiliki gaya neo-renaisance yang dibangun tahun 1821. Dulu, bangunan ini dinamai Theater Schouwburg Weltevreden, juga disebut dengan Gedung Komedi. Gedung ini merupakan tempat berkumpul para seniman seluruh nusantara mempertunjukan hasil kreasi seninya hingga saat ini.

Gedung yang megah ini dulu pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda pertama (1926) dan di tahun 1945, Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan beberapa kali gedung ini digunakan untuk sidang. Di tahun 1968, Gedung Kesenian Jakarta menjadi bioskop "Diana" dan di tahun 1969 berganti menjadi bioskop "City Theater". Gedung yang diusulkan oleh Gubernur Jenderal Belanda Daendels ini kemudian dikembalikan ke fungsinya sebagai Gedung Kesenian pada tahun 1984 dan menggunakan nama resmi Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 1987. 

 

Gedung Arsip Nasional

(foto: wartadki.com)

Dulunya, bangunan ini merupakan tempat tinggal gubernur jenderal Reinier de Klerk dan dibangun pada abad ke-18. Gedung ini disebut juga dengan nama gedung Landsarchief (arsip negeri). Tahun 1900, gedung ini sempat akan dibongkar dan dijadikan pertokoan namun dihalangi oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ("perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu"), yang didirikan oleh de Klerk.

Peruntukkan gedung ini pada tahun 1925 digunakan untuk departemen pertambangan pemerintah kolonial kemudian dijadikan Landsarchief (arsip negeri). Tahun 1992, lagi-lagi gedung cantik ini sempat terancam dibongkar untuk dijadikan pertokoan. Namun lagi-lagi gedung ini diselamatkan oleh sekelompok usahawan Belanda di bawah wadah Stichting Cadeau Indonesia ("yayasan hadiah Indonesia") yang membeli gedung ini sebagai hadiah  ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Yayasan tersebut kemudian mengumpulkan dana untuk memugarnya dan menjadikannya sebuah museum. Kini, gedung arsip yang indah ini bisa Anda kunjungi dengan leluasa dan bahkan sudah menjadi wedding venue favorit.

 

Museum Fatahillah

(foto: sobatpetualang.com)

Balai Kota Batavia VOC dibangun pada tahun 1707 - 1710 merupakan cikal bakal Museum Fatahillah. Bangunan ini menyerupai istana Dam di Amsterdam dimana terdapat bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat. Juga bangunan sanding yang peruntukannya sebagai kantor, ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang biasanya digunakan sebagai penjara.

Terdiri dari 3 lantai, bangunan ini mempunyai gaya neoklasik abad 17-an. Yang unik, di bagian atap gedung terdapat petunjuk arah mata angin. Hingga saat ini, Museum Fatahillah memiliki lebih dari 25.000 benda koleksi dari zaman pra-sejarah hingga abad ini. Di antara benda-benda koleksi tersebut diantaranya adalah mebel antik yang memiliki perpaduan Eropa, Indonesia dan Tiongkok. Yang tak kalah populer adalah Meriam si Jagur yang menjadi ikon dari Museum Fatahillah.

 

Jelajahi gedung-gedung retro ini sambil menginap2D1N di Superior Room Shiro I Shika Hotel Jakarta

Previous Article
Camping, Yuk!
Camping, Yuk!

Pergi kemping untuk pertama kalinya? Jangan panik dulu dan jangan terintimidasi. Pergi kemping sangat simpl...

Next Article
5 Traveler Perempuan Keren dari Indonesia Dan Apa Yang Membuat Mereka Jadi Seperti Itu
5 Traveler Perempuan Keren dari Indonesia Dan Apa Yang Membuat Mereka Jadi Seperti Itu

Ada yang jadi idola Anda?

Want more?

Visit our site

Discover