Mendaki Gunung Saat Puasa, Mengapa Tidak?

June 8, 2017 Chatarina Komala

Menahan haus dan lapar, bukan berarti harus menahan hasrat untuk “naik gunung”, bukan?

Tantangan yang akan Anda hadapi mungkin akan berlipat ganda. Beban yang berat, pun medan perjalanan yang tidak mudah, bisa jadi menghambat perjalanan. Belum lagi, soal terik Matahari yang menemani sepanjang perjalanan…

Namun, bukan berarti hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Selama Anda dapat mengatur waktu, tenaga, dan melakukan persiapan dengan baik; mendaki gunung ketika bulan puasa bisa jadi hal yang menyenangkan, lho. Hal ini mengingat gunung merupakan salah satu tempat untuk bermeditasi, bahkan membuat Anda semakin “dekat” kepada Sang Pencipta.

Nah, berikut adalah 13 tips yang bisa Anda praktikkan, untuk memastikan diri tetap kuat dan aman selama mendaki gunung.

1. Niat yang Kuat 

Ilustrasi: IDN Times

Beban yang berat, jalur pendakian yang sulit, rasa lapar, serta haus, akan menjadi tantangan tersendiri bagi Anda, yang memutuskan untuk naik gunung ketika bulan Ramadan. Namun, seluruhnya dapat dikendalikan, kok. Pertama-tama, adalah soal niat yang kuat.

Niat yang kuat sendiri akan menjaga Anda tetap pada tujuan. Tidak cuma sejak persiapan, melainkan juga ketika proses mendaki. Tanamkan kepercayaan diri, bahwa kendati puasa, Anda selalu dapat menahan diri, terutama ketika dihadapkan pada godaan untuk “batal”.

2. Latihan Fisik Minimal Seminggu Sebelum Pendakian

Ilustrasi: Telegraph

Untuk menjaga stamina tetap kuat, terutama pernapasan—Anda harus melatih fisik, minimal seminggu sebelum pendakian. Lebih baik lagi, jika Anda memang sudah berolahraga secara rutin. Adapun olahraga di sini berfungsi agar tubuh mudah menyesuaikan diri dengna perubahan cuaca; juga kondisi medan yang tidak dapat diprediksi. Beberapa jenis olahraga yang disarankan yakni joging, sit up, push up, berenang, dsb.

3. Pilih Jalur yang Ringan

Ilustrasi: Tourism Whistler

Ada baiknya, memilih gunung dengan jalur pendakian yang ringan. Tolok ukurnya, bisa dengan memilih gunung dengan tingkat kemiringan kurang dari 30 derajat. Ini dapat mencakup, Gunung Papandayan di Jawa Barat; Gunung Prau; atau Gunung Andong di Jawa Tengah. Sebisa mungkin, hindari gunung dengan jalur pendakian ekstrem; atau bahkan yang membutuhkan waktu pendakian selama berhari-hari.

4. Barang Bawaan Penting   

Ilustrasi: REI

Dengan tetap mengutamakan logistik dan alat lain yang mendukung pendakian; Anda dapat memprioritaskan barang-barang yang ringan. Jangan lupa, terapkan pula metode berkemas (packing) yang efektif agar pendakian tetap menyenangkan.

5. Logistik yang Mumpuni

Ilustrasi: www.blog.koa.com

Kendati nikmat disantap hangat-hangat, hindari menjadikan mi instan sebagai perbekalan naik gunung. Pasalnya, dari segi kualitas dan kuantitas, menyantap mi instan tidaklah cukup membuat tubuh bertahan selama pendakian di bulan Ramadan. Apalagi, mi instan juga tidak mudah dicerna dan cenderung menyerap air…

Sebagai gantinya, Anda bisa memperbanyak logistik berkalori, mengandung protein, dan karbohidrat. Jenisnya beragam, bisa berupa makanan instan (sosis, kornet, bakso, sereal) atau menu lain yang sudah Anda persiapkan dari rumah. Jangan lupa pula, membawa sayur dan buah-buahan sebagai menu pelengkap sahur dan buka puasa.

6. Perlengkapan P3K

Ilustrasi: Boys' Life Magazine

Sekalipun Anda tidak memiliki riwayat penyakit, Anda tetap perlu membawa perlengkapan P3K sewaktu mendaki. Bagaimanapun, pendakian saat berpuasa cenderung menguras tenaga dan konsentrasi. Di sisi lain, daya tahan tubuh juga berisiko melemah dan rentan celaka.

7. Waktu Pendakian yang Tepat

Ilustrasi: www.tahoejacks.com 

Siang hari, bukanlah waktu pendakian yang tepat—terutama ketika Anda sedang berpuasa. Sinar Matahari yang cenderung panas dan terik bukan hanya membuat perjalanan lebih melelahkan; melainkan juga menyebabkan tubuh berisiko dehidrasi.

Sebagai gantinya, Anda bisa memilih malam hari (setelah tarawih). Selain tidak panas, Anda juga lebih bebas minum dan makan. Bisa pula, mulai mendaki pada sore hari—lalu dilanjutkan dengan berbuka di tengah maupun di atas gunung.

8. Tempo Perjalanan

Ilustrasi: Backroads

Dengan asupan makanan dan minuman yang terbatas, penting untuk mengatur tempo perjalanan Anda. Hal ini bisa dengan berjalan lebih lambat; bahkan jika perlu banyak beristirahat agar tubuh hemat energi.

9. Teman Pendakian yang Sama-sama Berpuasa

Ilustrasi: Rozendal Farm

Untuk menyelaraskan ritme maupun tempo pendakian, ada baiknya untuk mengajak teman yang sama-sama berpuasa.

10. Jangan Terburu-buru

Ilustrasi: REI

Lakukan pendakian secara perlahan, atau setidaknya: lebih lambat jika dibandingkan mendaki pada hari biasa. Tujuannya, bukan cuma sekadar menghemat energi. Berjalan lebih pelan juga membuat Anda terhindar dari mount snicker—yakni penyakit ketinggian akibat tubuh yang kurang mampu beradaptasi.

Adapun salah satu bonusnya, Anda jadi lebih menikmati perjalanan. Toh, pemandangan yang tersedia sepanjang rute tidak akan terasa nikmat saat Anda berjalan terburu-buru, bukan?

11. Mulai Mendaki Saat Tubuh Sudah Beradaptasi

Ilustrasi: Guide Advisor

Anda bisa memilih waktu pendakian di pertengahan bulan puasa, lebih tepatnya ketika tubuh telah bisa menyesuaikan diri. Adapun alternatif ini bisa lebih baik dengan mengimbangi hari pertama puasa dengan olahraga ringan (joging/lari) sembari melatih stamina.

12. Multivitamin Saat Sahur

Ilustrasi: Republika

Sahur di ketinggian harus diisi dengan makanan yang berkualitas. Bukan hanya soal kandungan karbohidrat dan protein; melainkan juga vitamin. Nah, selain dari buah, Anda bisa membawa beberapa sachet multivitamin dan madu.   

13. Jangan Memaksakan Diri

Ilustrasi: www.summitpost.org

Satu hal yang paling penting dalam mendaki gunung adalah ketika Anda bisa kembali dan pulang ke rumah dengan selamat. Banyak orang berhasil sampai ke puncak. Namun, bagaimana Anda berhasil menikmati sekaligus menaklukan prosesnya, itulah hal yang paling memberikan kesan.

Nikmatilah perjalanan dan jangan memaksakan diri. Tujuan Anda bukan puncak, melainkan bagaimana Anda mengenal dan mendekatkan diri kepada alam dan Sang Pencipta.

 

Previous Article
Dongkrak Produktivitas dengan Mandi Air Panas
Dongkrak Produktivitas dengan Mandi Air Panas

Menyandang predikat “Ring of Fire”, Indonesia kaya akan mata air panas alami. Mana sajakah?

Next Article
Yuk, Menjajal Langsung Tradisi Ramadan di 16 Negara Berikut!
Yuk, Menjajal Langsung Tradisi Ramadan di 16 Negara Berikut!

Setiap negara memiliki cara unik dan khas dalam menyambut dan menikmati bulan puasa.

Want more?

Visit our site

Discover