Merayakan Malam Satu Suro di 5 Kota Berbeda

September 12, 2018 Chatarina Komala

Jatuh pada tanggal 11 September, bagaimana masyarakat Indonesia merayakan 1 Muharram atau Malam Satu Suro?

Tidak sedikit orang yang mengaitkan Malam Satu Suro dengan hal-hal berbau gaib atau supernatural. Padahal, perayaan malam tahun baru Islam atau 1 Muharram ini sesungguhnya merupakan momentum sakral dalam tradisi Jawa. Ini adalah hari pertama di bulan Suro (kalender Jawa) atau satu Muharram (kalender Hijriyah). Tidak heran, kalau Anda akan menjumpai beragam perayaan tradisional di kota-kota Pulau Jawa.

Nah, penasaran bagaimana Malam Satu Suro dirayakan di banyak tempat? Yuk, baca lebih lanjut!

 

1. Yogyakarta 

Ilustrasi: visitingjogja.com

Di Yogyakarta, ada tradisi bernama Mubeng Beteng  yang diadakan pada malam satu Suro. Ini merupakan kegiatan berkeliling kompleks Keraton Yogyakarta di malam hari, sebagai wujud dan simbol instrospeksi diri. Nah, karena berjudul “introspeksi diri” seluruh peserta diharuskan melakukan tapa bisu (tidak berbicara atau bersuara), tidak makan, minum, atau merokok selama ritual berlangsung. Tidak ketinggalan, rombongan iring-iringan juga akan membawa benda pusaka. Oh, ya, ritual ini bersifat terbuka sehingga siapa pun boleh ikut. 

 

2. Surakarta

Ilustrasi: www.photo.sindonews.com

 “Bersebelahan” dengan Yogyakarta, Keraton Surakarta juga punya tradisi khusus di malam satu Suro. Nah, bisa dikatakan, tradisi inilah yang paling populer--sebab melibatkan Kirab Kerbau Bule yang dipercaya sebagai keturunan Kiai Slamet. Bahkan, leluhur kerbau bule ini juga merupakan hewan kesayangan Sultan Paku Buwono II, sehingga disakralkan oleh masyarakat sekitar. Wajar, jika pada saat kirab, orang-orang yang menonton akan saling berebut untuk menyentuh tubuh kerbau bule dan mendapatkan kotorannya. Kotoran kerbau bule sendiri nanti akan digunakan sebagai pupuk, sebab dipercaya membawa berkah pada hasil tanam.

 

3. Semarang

Ilustrasi: www.hariansemarangbanget.blogspot.com

Di Semarang, ada satu ritual yang lazim dilakukan saat malam satu Suro. Nama ritual ini adalah kumkum atau dalam bahasa Indonesianya, berendam. Biasanya, orang akan berendam di Tugu Soeharto, Kampung Bendan Nduwur, Kecamatan Gajahmungkur. Dilakukan di lokasi tersebut, sebab Tugu Soeharto merupakan pusat pertemuan arus anak Sungai Kreo (timur), Sungai Ungaran (selatan), dan Kaligarang (utara).

 

4. Malang

Ilustrasi: www.tribratanewsmalang.com

Pada malam satu Suro, warga Desa Wonosari, Malang akan melakukan kirab mengelilingi desa di kawasan Gunung Kawi. Nah, satu yang unik, peserta kirab haruslah mengenakan pakaian tradisional Jawa. Barulah, setelah usai berkeliling desa, gunungan berisi hasil Bumi dan sajen akan dibawa ke makam Eyang Junggo dan Iman Soedjono untuk didoakan, setelahnya dibagikan oleh warga  yang datang.

Adapun sebagai puncaknya, dilakukan pembakaran sangkala (patung raksasa yang melambangkan sifat jahat). Diharapkan ritual ini menjadi simbol serta doa agar masyarakat senantiasa dijauhkan dari sifat jahat, rakus, dan marabahaya.

 

5. Kediri

Ilustrasi: Youtube

Ritual khusus di Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo akan digelar oleh warga sekitar Desa Menang, Kediri. Mula-mula, berbagai sajen akan dibawa dari rumah juru kunci, lalu sesepuh akan membacakan doa sesampainya di petilasan.

Di pagi hari, kegiatan akan dilanjutkan dengan arak-arakan pusaka dari Balai Desa menuju petilasan. Nah, pada momentum ini, siapa pun yang ikut harus menggunakan busana tradisional. Adapun pusaka tadi akan disucikan dan dilanjutkan dengan ritual penaburan bunga setaman.

Previous Article
Penerbangan Juga Bisa Jadi Tempat Bertemu Jodoh, Lho, Tidak Percaya?
Penerbangan Juga Bisa Jadi Tempat Bertemu Jodoh, Lho, Tidak Percaya?

Namanya jodoh, bisa ditemukan di mana saja. Bisa dari lingkungan kerja, sekolah, teman masa kecil, atau jus...

Next Article
Menyaksikan Fenomena Alam Unik di 5 Destinasi Berikut!
Menyaksikan Fenomena Alam Unik di 5 Destinasi Berikut!

Ada banyak fenomena alam menakjubkan yang bisa Anda saksikan langsung. Untungnya, tidak perlu pergi jauh-ja...

Want more?

Visit our site

Discover